Memeluk Mendung di Dalam Diri

 Di Rumah Qianna

Setelah denger lagu isyana judulnya "Lembaran Buku".

Selalu kucoba untuk lupakan
Cerita lama yang menjadi bukuTerlanjur sudah 'ku membacaDari bab perkenalan
Tak semua halaman meranaNamun yang kelam terlalu berartiYang bahagia terlupakanTerselimuti benci
Warna fana raguHanya karena kamu
Seperti kutegak berdiriDi atas kertas putihSeperti kencangnya berlariTanpa tujuan hentiHalaman tawa yang aku cariTelah hangus namun di hatiPercaya terangkan kembaliBeranikan diri
Tak semua halaman meranaNamun yang kelam terlalu berartiYang bahagia terlupakanTerselimuti benci
Fatamorgana raguHanya karena kamu
Seperti kutegak berdiriDi atas kertas putihSeperti kencangnya berlariTanpa tujuan hentiHalaman tawa yang aku cariTelah hangus namun di hatiPercaya terangkan kembaliBeranikan diri
Tutup buku iniSemua karena keyakinanAku padamuTapi baiknya terucapSemua


Lagu Isyana Saraswati ini sangat mewakili hatiku yang mendung. Dan nada lagunya cocok nemenin aku nangis sambil nulis postingan kali ini. Akhirnya aku setel yang 1 jam nonstop buat nemenin aku nulis post kali ini.
Hujan di luar ga menyurutkan niatku nulis dan lanjut tidur karna besok harus study tour bareng anak-anak. Hujan justru jadi sumber mellow dan jiwa puitis aku meronta karena statusku sebagai pluviophille. Romantis banget hujan-hujan sambil denger lagu galau terus nulis blog sambil nyeruput teh manis. Perasaan di hati kaya mendung yang belum berakhir. Dan aku sadar wah ini ga baik-baik saja.

Perasaan aku lagi kacau balau, karena kejebak karmic untuk kedua kalinya. Namun kali ini aku cukup pintar, aku berusaha melawan dengen elegan. Meski di kepala nyut-nyutan sampai mau meledak. Sampai akhirnya mau menyerah. 

Untuk ujian karmic kali ini aku cukup tau harus apa, gak masuk lagi ke fase depresi kayak pas ketemu karmic di awal. Yang ini bisa lebih terolah dengan mencari tau kenapa karmic ini muncul. Ternyata setelah shadow work yang muncul adalah "rasa aman dan dilindungi".

Sebagai Fearful avoidant dan cewe hyper independent yang bisa diibaratkan "Aku ga butuh siapa-siapa", aku terbisa bersandar ke diri sendiri, aku harus kuat dan bisa segala macam agar aku tidak terluka. Dan aku membuat tembok tinggi, saking tingginya aku kejebak di dalemnya. Dan nuraniku minta tolong. Ternyata ada banyak lapisan diri aku yang sangat terluka namun kututup dengan topeng kuat dan tegar.

Izinkan aku jujur untuk kali ini, jujur sama diri sendiri kalau aku lelah, aku udah ga sanggup mikir, aku pengen ditolong, aku bingung. 

Meskipun sesusah apapun masalahku sebelumnya Allah SWT selalu nolong aku, dan aku masih hidup baik-baik saja. Namun kali ini izinkan aku jujur menghadapi aku yang sok kuat di luar. 

Karmic kali ini aku merasa tarikan intens dan instan, seperti pernah kenal dan tau cara menghadapi orang itu dengan baik dan benar, dan ketriger dari kartu kak nanda barusan.Resonate dengan yang aku alami, bener-bener mak-jlebb. 


Karmic kali ini rasanya seperti duduk di pinggir badai, pemandangannya luar biasa dan mendebarkan, tapi ku pastikan kakiku tetap berpijak di tanah. 

Namun lagi-lagi aku disuruh belajar, setelah aku telaah ke diri paling dalam. Dan muncullah jawabnnya yang aku jeasin di awal-awal paragraf.

Semoga pelajaran kali ini indah, ga biin gila ampe 2 tahun kaya karmic pertama wkwkwkwk.

Akan kupeluk mendung di dalam diri ini, sampai akhirnya aku bisa melepasnya dengan tegar dan senyuman.






Love,


Meisya



Komentar

Postingan Populer