(Shadow Work) Meisya dan Panti Asuhan

Sabtu, 15 Maret 2025

Ditengah bulan purnama, dan mercury retrograde

Di Kamar, sambil dengerin Ardan Nembak

10.25 pm


Topik kali ini aku ambil dari challenge nulis post di blog aku yang nomer 4 yaitu "Childhood Memories".  

Aku terlahir dari keluarga besar. Aku anak perempuan pertama. Dan sialnya aku sering banget ditumbalkan, Tulisan ini aku buat sebagai Jurnal Shadow work. Hati-hati mengandung banyak trigger. :) 

Dulu bapakku adalah orang yang tidak bermasalah dengan uang. Namun ketika aku kelas 6 SD perusahaannya bangkrut dan kita mulai struggle hingga aku kuliah. 

Aku lagi engga mau nulis kesusahan keluarga aku saat itu, karna aku dalam proses menyembuhkan diri. Lagipula alhamdulillah berkat bantuan Allah SWT dan usaha alm. Bapak dan Mama, kita semua alhamdulillah cukup bisa turn the table. 

Childhood memories yang ingin kubagi kali ini adalah cerita aku tentang Panti Asuhan. 

Sebagai anak perempuan tertua, aku dari kelas 4 SD sudah disuruh cuci piring, cuci sepatu, cuci kaos kaki, menyetrika seluruh keluarga. We are family of 8. Can you imagine how many things and chores that i have to do. Hehehe.

Tapi hasilnya aku cukup terampil mengerjakan house chores saat ini. 

Daaaaaaaannnnn, hal yang paling menyebalkan adalah aku harus terus "MENGALAH" dengan ke-lima adikku. Hal inilah yang membuatku sampai saat ini menjadi aku yang sangat hyper-independence. Karena aku harus selalu bisa membela diri aku sendiri dr kecil. No body to rely on. Karna setiap aku berusaha mendapat hak aku, aku harus terus lepaskan. Dan aku mengerti, karna hal itu pula sekarang aku punya tipe attachment "Fearful AVOIDANT" yang berusaha untuk ku sembuhkan.


Ceritanya, aku mulai membangkang dan engga mau ngerjain kerjaan rumah dan nurut perintah mama yang akan mengecap aku anak durhaka karna ga bantu orang tua. Waktu itu aku engga mau nyetrika, engga mau disuruh ngaji ke rumah Uwa di hari minggu malem dan nginep, karena kalau beres ngaji Uwa suka ngasih uang dan uang itu aku kasih ke mama aku untuk bekal seluruh adik ku ke sekolah. Apesnya aku harus pulang senin pagi dan jalan kaki ke rumah di setiap senin pagi untuk ngasih uang itu. Aku maunya di rumah, nonton TV kaya yang lain dan belajar. 

Bertengkarlah kita dengan sangat hebat dan bikin aku kesel setengah mati. Sambil nangis aku jalan ke luar rumah, mencoba pergi dari rumah buat bisa narik nafas. Nahan kesel setengah mati. Aku jalan ke daerah belakang rumah, aku berjalan dan menjelajahi daerah yang tidak familiar ke sana ke sini. Dan sampailah aku di depan sebuah Panti Asuhan.  

(Foto di sebelah cuma ilustrasi)
Aku lupa nama panti asuhan itu. Namun kesan pertama yang aku dapat adalah munculnya rasa "Kasihan" yang meluap-luap. Aku cukup lama berdiri di depan panti asuhan itu. Panti asuhan itu tidak besar. Di depan panti asuhan itu ada teras yang dipakai oleh anak-anak panti yang berusia sekitar anak SMP untuk mengobrol. Sekitar 4-5 anak laki-laki dan perempuan mengobrol bareng seperti melepas penat bareng. Kemudian ada ruangan yang pintunya terbuka lebar. Isinya adalah ruangan yang ada TV dan anak-anak yang lebih kecil duduk di lantai dan menonton tv tersebut bersama-sama. 


Aku perhatikan cukup lama, dan seakan Allah SWT menampar aku, tiba-tiba aku mau nangis. Apalagi aku juga lihat ada ruangan lain isinya ranjang tingkat yang terbuat dari besi namun gaya ranjangnya sangat out of date, seakan menandakan bahwa ranjang tsb sudah disana berabad lamanya, menjadi saksi mimpi dari anak-anak di panti asuhan tersebut. 

Karna aku diam cukup lama di panti asuhan tersebut, anak-anak yang lagi ngobrol di teras mulai ngeliatin aku, "Wah, aku harus pergi nih, udah diliatin" batinku saat itu, tapi hati aku rasanya mulai menyerap dan membaca aura panti asuhan itu. Yang meskipun kesan pertama yang aku dapat adalah rasa kasihan namun ternyata cukup hangat dan ramah. Aku yang diliatin anak-anak yang ngobrol itu, dengan anggukan dan senyuman. Seakan mereka bilang "Teteh"... Tapi ga ada aura yang bilang "ada apa teh?". Terus mereka asyik ngobrol lagi.

Setelah beres mengolah semua perasaan dan aura yang hangat, sedih, empati, bersyukur, kaget, heran, akhirnya aku bisa mencerna semua perasaan itu dengan lebih baik.

Aku heran, bagaimana mereka semua bisa bertahan? 

Seketika kesedihan aku yang tadinya membara kini menciut jadi segede api lilin. Malu... ada yang lebih berat ujiannya. 

Haaahhhhh.... akhirnya aku balik lagi ke rumah dan mencoba kembali menyayangi keluargaku yang Astagfirullahhaladziim ini. 

Pertemuan aku dengan Panti Asuhan ini menorehkan kesan dan pengalaman yang sangat dalam. namun sayangnya setelah aku kerja dan aku mau silaturahmi dan memberikan sedikit bantuan, Panti Asuhannya tutup. Dan aku ga tau mereka pindah ke mana. 

Mungkin aku akan niatkan nyari mereka sekarang. 

Panti asuhan ini mecut aku untuk bisa kerja dan bantu banyak orang. Sampe aku mimpi bisa buka rumah singgah atau panti asuhan yang dipatahkan oleh mamaku dengan omongannya "Halah... ngasuh budak sorangan ge teu bener, komo ngasuh budak batur". Hehehehe.

Ahh... apa salahnya punya mimpi yang agak mulia. Bismillah...

Aku jadi pengen jadi volunter di panti asuhan ngajar tk atau mandarin, atau baca cerita tiap sebulan sekali atau kalo bisa tiap minggu. ya yang aku bisa mereun hehehe.

Tulisan post ini agak meloow, tertahan berkali-kali karna aku nangis. Dan akhirnya nerapin butterfly hug beberapa kali. Singkatnya tulisan ini seperti dialog dengan diriku yang aku kunci di file yang dalam. Dan menghadapi aku yang pada saat itu beserta kesedihan yang membuncah bersama aku yang sekarang.

Terima kasih sudah membaca.






Salam Hangat,




Meisya

Komentar

Postingan Populer