Tidak apa-apa jika kita membenci diri kita sendiri, tapi jangan lupa untuk kembali mencintainya
Hm.. Topik blog kali ini terinspirasi dari salah satu instagram sania leonardo. Yang isinya dia bicara seperti ini "Elu jangan sok sok effort benci gue, tiap hari juga gue effort membenci diri gue sendiri".
Aku tertawa sekaligus terhenyak setelah mendengar perkataan itu. Aku sering kesal dengan diri sendiri, karna aku sering sekali melakukan kesalahan dan melakukan kekonyolan yang memalukan.
Saking memalukannya, aku sulit memaafkan diri sendiri. Dan ketika memori cuplikan kejadian yang memalukan itu muncul, seketika aku sering berteriak "aa... Tidak... Ya Allah Cabutkah Nyawaku!!". Setelah berkata seperti itu, yang ku dapat adalah 'Pelototan' dari sumiku. Namun karna hal yang memalukannya banyak, dan ingatan yang timbulnya juga sering, sering pula suami ku bosan mendengar ocehan ngawurku diatas. Sehingga responnya yang berawal dr pelototan menjadi acuh yang mungkin dalam hatinya berkata seperti ini "Si Bunda keur EDAN". Hahahahahaha
Topik diatas juga mantap kutulis setelah aku menonton dorama jepang yang berjudul
"The Memorandum of Kyoko Okitegami" ep.6 di WakuWakuJapan.
Bercerita tentang seorang laki-laki yang sering bernasib sial. Selalu dicurigai karna berada pada tempat dan waktu yang salah.
BAM..
Ingtaan memalukanku karna bernasib sial sama dengan tokoh utama laki-laki itu muncul. "Ya Allah... Cabutlah nyawaku"... Kalimat ocehan template kalo ingatan memalukanku kambuh disambut respon anakku yang sulung. "Kenapa sih ma?"..
Tak kusangka, aku mulai membuka kejadian aib/hal yang memalukan sekaligus menyedihkan pada anakku dan suamiku (yang pada saat itu lagi nonton bareng).
"Dulu, mama pernah difitnah ngambil dompet temen sekelas mama".
Aku ga sengaja berpapasan dengan teman sekelasku di pagi hari saat akan masuk ke gerbang sekolah. Akhirnya kita pun bersama-sama pergi ke kelas. Di tengah pelajaran, aku mau pinjem sesuatu entah apa tepatnya (tipe-x atau apalah) ke temenku yang tadi pagi papasan. Dia lagi ngobrol di depan kelas, setelah aku izin mau pinjam barngnya, dia bilang "Ambil aja sendiri di tas". Aku ga berani. Aku bawa aja tasnya ke depan kelas. "Sok nih ambil sendiri, aku ga berani" sahutku sambil memberikan tasnya. Yang mengejutkan setelah aku pinjam barangnya, dia teriak-teriak "Dompet aku ilang". Yang otomatis semua kecurigaan mengarah padaku. Aku yang bareng dari pagi, sampai minjem barangnya dan megang pula tasnya.
Aku amat sangat merasa menjadi orang yang tertuduh saat itu. Aku periksa ulang-ulang tasku seerti teman-temanku yang lain. Tidak ada apapun.
Yang menyedihkannya, saat itu aku termasuk murid yang miskin. Fakta bahwa ayahku pengangguran, ibuku guru honorer dan adikku banyak. Adalah pil pahit yang aku terima saat semua dengan seenaknya menuduhku. Teman-temanku tidak secara langsung menuduhku, tapi dari selentingan, tatapan, dan teman-temanku bergumul menjaga jarak denganku agar mereka tidak dicurigai. Udah-lah limpahin aja ke si Meisya.
Yang membuatku sedih dan malu pada diriku sendiri, pada saat itu aku nggak berusaha membuktikan aku nggak mencuri dompet temenku. Aku berani disuruh sumpah demi apapun. Karna sampai detik ini pun aku ga pernah mengambil dompet temenku. Cuma karma aku miskin pada saat itu rasanya aku cuma bisa pasrah didiskriminasi.
Kenangan memalukan itu ku bawa sampai detik ini. Dan setiap kenangan itu muncul, beriringan pula muncul rasa "sedih, kesal, marah, dan malu pada diri sendiri" berkecamuk dalam hatiku dan mulutku sekonyong-konyong berkata "Ya Allah... Cabutlah Nyawaku".
Hahahahahahahaha...
Kok sekaranng ingat kejadian itu malah ngakak ya.. Anak sulungku kepikiran dan lanjut bertanya "terus yang bully mama sekarang gimana? Emang kita bisa nuduh pencuri kalau ga ada buktinya?". Kujawab dengan santai "Qis... Sampe sekarang ga ada yang tau itu dompet diambil siapa. Dan mama udah melewati fase mama diabaikan karna dituduh tidak benar. Tapi hati mama tetap tenang karna mama tidak mencuri dompet teman mama. Itu yang paling penting".
Kedamaian hati...
Meski saat itu pandangan teman-temanku sangat membuatku terluka. Tapi aku bisa damai karna aku ga pernah merasa mencuri dompet temanku. Yap hatiku saat itu amat ringan meski dihujani tuduhan yang menyebalkan. Syukurlah...
Nah... Kembali ke dorama jepan ini. Si tokoh laki-laki ini juga sama, dia hidup membawa kenangan yang memalukan, pedih dan pahit yang telah dilaluinya. Tapi ada hari esok yang memberikan kita kesempatan untuk memeluk diri kita yang lalu. Ada kesempatan untuk diri kita memaafkan diri kita yang begitu bodoh saat mendapatkan perlakuan yang menyebalkan.
"to be wise and old, first we have to be young and stupid"
Berikut adalah potongan kata-kata menarik monolog dari tokoh laki-laki di dorama jepang ini.
" Mungkin kita sering terbebani dengan hal sial dalam hidup kita. Meskipun aku sangat sial, dan tidak mempunyai tujuan, atu impian dalam hidup, aku akan terus hidup. Hidupku adalah milikku."
"Hidup berarti melakukan hal yang memalukan, mungkin ada di dunia ini, orang yang hidup tanpa pernah mempermalukan diri sendiri, tapi orang seperti itu tak pernah kutemui, dan itu tidak penting".
"Kita sering berputar-putar memikirkan hal yang tidak penting, hidup sangat tidak keren dan payah. Aku mengakhiri nyaris setiap hari membenci diriku sendiri. Tapi aku disini, aku masih hidup, aku masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diriku.
Jadi, aku juga ingin kau menjalani hidup yang memalukan ini, teruslah hidup. Dengan kenangan yang membuatmu ingin melarikan diri.... Karena sangat tidak keren dan memalukan. Teruslah hidup dengan kenangan itu".
Monolog yang sangat keren....
Wah... Lega sekali aku menceritakan kesialan ku dituduh pencuri pada anak dan suamiku..
Sepertinya kalau ingatan itu muncul aku ga akan ngomong "Ya Allah... Cabutlah nyawaku" lagi.. Tapi aku akan tersenyum dan memeluk diriku dengan erat dan berkata "Terima, maafkan dan belajar".
Tidak apa-apa jika kita sering membenci diri sendiri, tapi jangan lupa untuk kembali mencintainya.
Karna siapa lagi kalau bukan kita yang bisa cinta dan nolong diri kita sendiri.
Salam hangat,
Meisya
bagus... keep writing
BalasHapusSiap.. semangat <3
Hapus