Antara Cinta dan Benci Menjadi Seorang Ibu Rumah Tangga
"Kenapa atuh milih jadi Ibu Rumah Tangga, padahal pada saat itu kamu bisa mengembangkan karir yang lagi bagus-bagusnya?". Pertanyaan itu kerap terlontar oleh banyak orang, dulu sekali dan baru-baru ini.
Pertanyaan itu dulu mantap kujawab "Karir bisa di ulang, tapi membersamai anak pada masa Golden Age nggak bisa diulang".
Tapi sekarang aku kena resikonya. Membangun karir pada usia seperti saat ini ternyata membutuhkan perjuangan yang berlipat ganda. Namun aku menyemangati diri dengan mengingat atas kesempatan dan waktu bersama anak-anakku, mengajar, mendidik, memberi contoh, mengajarkan IQRO, melatih hapalan Surat-surat pendek, mengimami shalat, memasakkan makanan utama dan camilan untuk mereka, menjawab pertanyaan konyol mereka, mendengarkan joke mereka yang kadang lucu - kadang juga garing. hehehehe..
Namun hantaman pandemi, dan keinginanku kembali berkarir membuatku terus bersemangat mencari lowongan dan mengikuti interview dari berbagai lowongan mengajar yang aku ikuti. Mungkin, yang sudah dengar Podcast aku di Spotify yang berjudul "Impulsif" pasti hapal drama yang aku lalui waktu mendapat pekerjaan baru-baru ini. Hehehehe...
Yah... meskipun aku gagal saat ini, tapi aku belum mau menyerah. Dan hey.. baru saja aku mendapat email penolakan dari salah satu sekolah atas lowongan pekerjaan yang coba aku ikuti. Hm... mungkin ini adalah pertanda bahwa Plan B yang aku buat perlu segera aku luncurkan. hehehehehe.
Bagian menyedihkanku menjadi ibu rumah tangga saat ini adalah belum tercapainya kemerdekaan finansial. Selain itu, "Eksistensi" aku sebagai manusia mulai luruh. Bagiku bekerja dan memiliki pekerjaan adalah sebuah kebutuhan batin yang harus dipenuhi. Maka, aku tidak akan menyerah untuk mewujudkannya. Meski saat ini setiap keputusan dan tindak -tandukku harus memikirkan kondisi anak dan keluarga.
"Jika kau tak dapatkan yang kau impikan bukan berarti kau tlah usai....." -Lagu Untuk hati yang terluka oleh Isyana. Lagu itu adalah lagu yang pas untukku saat ini. kemarin aku sempat runtuh, tapi aku memilih utnuk tidak menyerah, kemudian ku sempurnakan Plan B alias Backup Plan yang sempat tak ku lirik.
Menjadi Ibu rumah tangga juga menyenangkan, aku bebas tidur siang sesuka hatiku. Hehehe. Aku juga mulai sadar "Dinafkahi" itu juga merupakan sebuah kenikmatan. Aku pernah ada di fase lelah, muak, kesal dan pusing memikirkan cara mendapat uang agar hidupku bisa tetap berjalan. Tapi, saat ada di fase ini (sebagai ibu rumah tangga) rasanya enteng sekali saat bagian "mencari uang" itu tidak ada.
Harapanku saat ini adalah semoga pekerjaanku datang di saat yang tepat. Pekerjaanku cocok dan sesuai dengan kondisi aku, anak-anak dan keluargaku saat ini.
Amin....
Semoga harapan dan impian kita selalu menyala hangat di hari siapapun yang membaca blog ini.
Salam Hangat,
Meisya



Komentar
Posting Komentar