Rezeki yang Halal
Sukabumi, 25 September 2016
Jam 21.55
Di ruang tengah rumah mama.
Akhir-akhir ini aku suka merenung akan pentingnya asal muasal rezeki yang kita dapatkan. Dan apa hubungannya antara sumber rezeki dan akibat yang ditimbulkannya. Dewasa ini kita disuguhkan dengan dunia konsumerisme yang sangat dahsyat. Kita seakan dibuat untuk menjadi manusia yang haus akan hasrat membeli. Membeli benda atau jasa dalam bentuk apapun. Kita disuguhkan oleh pola hidup yang serba glamour dan mewah. Sedangkan untuk bisa hidup bermewah-mewahan bukan hal yang sangat mudah. Setiap hal yang kita lihat dalam televisi, media sosial, poin yang digambarkan tidak jauh dari hal hal yang bersifat memenuhi kesenangan saja.
Maka dari itu kita pun berlomba-lomba untuk memenuhi segala hal yang ditawarkan oleh dunia komsumerisme ini dengan cara apapun. Tulisan ini sebenarnya dimulai saat saya melihat banyak pihak dr berbagai kalangan berlomba memamerkan kemewahannya dengan berbagai cara. Status di media sosialnya pun hanya tentang bagaimana menjalani kemewahannya dan bersenang-senang dengan hal tsb. Nah timbullah permasalahan bagaimana cara saya bisa memenuhi kesenangan tsb.
Bila dalam mewujudkan kemewahan yg kita impikan, kita rela untuk bekerja keras menjadikan kepala jadi kaki, dan kaki jadi kepala, banting tulang bekerja. Berarti kemewahan yang didapat adalah reward dr hasil kerja kerasnya. Namun bagaimana dengan orang-orang yang menghalalkan cara yang tidak baik untuk mendapatkan kemewahan hidupnya? Seperti korupsi, melacurkan diri, menjadi kaum yang oportinis dan munafik, orang yg tukang terima suap.
Aku sendiri suka bingung kenapa yang memilih jalan yg tidak benar kok hidupnya kayak senannnng aja. Lha aku yang gila-gilaan kerja hidupku kok ga ada perubahan hahaha. Tapi aku ga kabita sama cara instan menjadi orang berada karna dalam Al-Quran Allah SWT telah menyebutkan "Allah telah memberi 2 kepastian hidup menurut pilihan masing-masing". Jadi jika pilihan hidup kita baik ya hasilnya akan baik. Jika kita memilih jalan yang salah ya hasilnya bakal tidak baik. Itu adalah rumus pasti akan kehidupan kita.
Saya yakin se yakin yakinnya, dengan mendapatkan rezeki yang halal maka yang menjadi darah dan daging yang berwujud dalam prilaku hidup pun akan baik dan barokah. Dengan memakan rezeki yang tdk halal berarti seluruh tindak laku perbuatan kita akan tidak baik.
Pada intinya cara untuk mendapatkan rezeki yang halal itu tdk mudah dan tdk enak. Berbanding terbalik dengan rezeki yang tdk halal, instan langsung dpt duit tapi ga longlasting. Dan rezeki yang tidak halal itu asalnya dari "ketidaksabaran" manusia.
Kesabaran adalah kemampuan untuk menahan diri dari berbagai kesenangan sesaat demi encapai target dinasa depan yang lebih baik. "Kesenangan Sesaat" ini bisa berarti keinginan untuk membelanjakkan uang, keinginan untuk meluapkan kemarahan, atau keinginan untuk mendapatkan keuntungan jangka pendek.
Ayo echa!!! Semangatkan dirimu untuk selalu sabar menghadapi permasalahan hidup, agar nantinya kita mendapatkan hasil atau rezeki yg halal bagi mu dan sang buah hati. Ini tips yang baik hasil googling agar menjadi pribadi yg sabar. Saya bakal coba ingat tips ini ketika saya mulai hilang kendali hehehe.
Tips menjadi orang sabar.
1. Bersyukur, lihat pada orang-orang yg ada dibawah kita yang berjuang untuk masa depan yg lebih baik.
2. Puasa medsos. Istirahatkan sejenak gadget kita. Berjalanlah dan amatilah lingkungan sekitar dan hirup udara segar sebanyak mungkin.
3. Tanamkan pola pikir bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemufian.
4. Belajar untum selalu berfikir positif dan optimis ketika ujian menghadang.
5. Belajar tidak melekat secara emosi ataupun ego pada hal apapun yang sedang dimiliki.
6. Belajar relaks dan nothing to loose pada hal-hal yang terjadi.
Well tips diatas sebenernya agak susah buat dipraktekkin. Tapi gak ada salahnya mencoba. Semangat bersabar!!!!
Jam 21.55
Di ruang tengah rumah mama.
Akhir-akhir ini aku suka merenung akan pentingnya asal muasal rezeki yang kita dapatkan. Dan apa hubungannya antara sumber rezeki dan akibat yang ditimbulkannya. Dewasa ini kita disuguhkan dengan dunia konsumerisme yang sangat dahsyat. Kita seakan dibuat untuk menjadi manusia yang haus akan hasrat membeli. Membeli benda atau jasa dalam bentuk apapun. Kita disuguhkan oleh pola hidup yang serba glamour dan mewah. Sedangkan untuk bisa hidup bermewah-mewahan bukan hal yang sangat mudah. Setiap hal yang kita lihat dalam televisi, media sosial, poin yang digambarkan tidak jauh dari hal hal yang bersifat memenuhi kesenangan saja.
Maka dari itu kita pun berlomba-lomba untuk memenuhi segala hal yang ditawarkan oleh dunia komsumerisme ini dengan cara apapun. Tulisan ini sebenarnya dimulai saat saya melihat banyak pihak dr berbagai kalangan berlomba memamerkan kemewahannya dengan berbagai cara. Status di media sosialnya pun hanya tentang bagaimana menjalani kemewahannya dan bersenang-senang dengan hal tsb. Nah timbullah permasalahan bagaimana cara saya bisa memenuhi kesenangan tsb.
Bila dalam mewujudkan kemewahan yg kita impikan, kita rela untuk bekerja keras menjadikan kepala jadi kaki, dan kaki jadi kepala, banting tulang bekerja. Berarti kemewahan yang didapat adalah reward dr hasil kerja kerasnya. Namun bagaimana dengan orang-orang yang menghalalkan cara yang tidak baik untuk mendapatkan kemewahan hidupnya? Seperti korupsi, melacurkan diri, menjadi kaum yang oportinis dan munafik, orang yg tukang terima suap.
Aku sendiri suka bingung kenapa yang memilih jalan yg tidak benar kok hidupnya kayak senannnng aja. Lha aku yang gila-gilaan kerja hidupku kok ga ada perubahan hahaha. Tapi aku ga kabita sama cara instan menjadi orang berada karna dalam Al-Quran Allah SWT telah menyebutkan "Allah telah memberi 2 kepastian hidup menurut pilihan masing-masing". Jadi jika pilihan hidup kita baik ya hasilnya akan baik. Jika kita memilih jalan yang salah ya hasilnya bakal tidak baik. Itu adalah rumus pasti akan kehidupan kita.
Saya yakin se yakin yakinnya, dengan mendapatkan rezeki yang halal maka yang menjadi darah dan daging yang berwujud dalam prilaku hidup pun akan baik dan barokah. Dengan memakan rezeki yang tdk halal berarti seluruh tindak laku perbuatan kita akan tidak baik.
Pada intinya cara untuk mendapatkan rezeki yang halal itu tdk mudah dan tdk enak. Berbanding terbalik dengan rezeki yang tdk halal, instan langsung dpt duit tapi ga longlasting. Dan rezeki yang tidak halal itu asalnya dari "ketidaksabaran" manusia.
Kesabaran adalah kemampuan untuk menahan diri dari berbagai kesenangan sesaat demi encapai target dinasa depan yang lebih baik. "Kesenangan Sesaat" ini bisa berarti keinginan untuk membelanjakkan uang, keinginan untuk meluapkan kemarahan, atau keinginan untuk mendapatkan keuntungan jangka pendek.
Ayo echa!!! Semangatkan dirimu untuk selalu sabar menghadapi permasalahan hidup, agar nantinya kita mendapatkan hasil atau rezeki yg halal bagi mu dan sang buah hati. Ini tips yang baik hasil googling agar menjadi pribadi yg sabar. Saya bakal coba ingat tips ini ketika saya mulai hilang kendali hehehe.
Tips menjadi orang sabar.
1. Bersyukur, lihat pada orang-orang yg ada dibawah kita yang berjuang untuk masa depan yg lebih baik.
2. Puasa medsos. Istirahatkan sejenak gadget kita. Berjalanlah dan amatilah lingkungan sekitar dan hirup udara segar sebanyak mungkin.
3. Tanamkan pola pikir bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemufian.
4. Belajar untum selalu berfikir positif dan optimis ketika ujian menghadang.
5. Belajar tidak melekat secara emosi ataupun ego pada hal apapun yang sedang dimiliki.
6. Belajar relaks dan nothing to loose pada hal-hal yang terjadi.
Well tips diatas sebenernya agak susah buat dipraktekkin. Tapi gak ada salahnya mencoba. Semangat bersabar!!!!
Komentar
Posting Komentar